Spesies Mamalia Besar Hidup Lebih Sulit, Punah Lebih Cepat

21 01 2010

Sepanjang sejarah bumi, spesies telah datang dan pergi, digantikan oleh spesies baru yang dapat menghadapi tantangan hidup lebih baik. Tetapi beberapa spesies bertahan lebih lama daripada yang lain, sementara yang lain mungkin tidak mampu bertahan lama atau berkembang lebih cepat.

Sebuah tim peneliti dari Finlandia, Norwegia dan AS telah menemukan bahwa mamalia besar nampaknya berkembang lebih cepat dibanding mamalia kecil, penyebabnya bukan dikarenakan ukuran tubuhnya. Agaknya, para ilmuwan menemukan bahwa beberapa mamalia kecil memiliki kemampuan untuk tidur, tinggal di dalam liang atau tempat perlindungan lainya. Dengan demikian, mereka secara efektif bertahan dalam perubahan lingkungan yang keras.

Sebaliknya, mamalia besar harus dapat bertahan hidup di saat persediaan makanan sedikit atau cuaca yang buruk. Ukuran tubuh mereka yang besar memaksa mereka untuk menggali liang atau menurunkan tingkat metabolisme pada waktu yang lebih lama. Secara logika, mamalia besar menghadapi sesuatu yang mungkin membuat mereka sulit untuk tetap bertahan, namun seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman membuat mereka berhasil bertahan hidup.

Penemuan ini agak mengherankan. Pada tingkat individu, mamalia besar cenderung hidup lebih lama secara signifikan dibanding mamalia yang lebih kecil. Sebagai contoh, gajah dapat hidup 70 tahun, sementara berang-berang (sejenis tikus) sudah beruntung bila dapat mencapai dua tahun.

Karena masa generasi yang lebih cepat dari mereka, mamalia lebih kecil seharusnya berkembang biak lebih cepat, dan spesies mamalia kecil dan genus (kelompok mamalia tertentu) seharusnya muncul dan punah lebih cepat, tetapi bukan ini masalahnya.

“Kami percaya makna terbesar dari pekerjaan kami ada-lah membuktikan bahwa, bertentangan dengan yang diharapkan, mamalia kecil tidak berkembang biak lebih cepat dari mamalia besar, dan beberapa dari mereka bahkan berkembang jauh lebih lambat,” kata Nils Stenseth, profesor zoologi di University of Oslo.

Studi sebelumnya (beberapa difokuskan pada mamalia tropis) telah menghasilkan kesimpulan campuran berdasarkan ukuran tingkat evolusi fosil mamalia, dengan beberapa penemuan mempunyai pola yang berlawanan dan beberapa penemuan tidak menunjukkan adanya perbedaan.

Satu penjelasan yang mungkin adalah mamalia besar (yang hidup) di iklim tropis tidak menghadapi kondisi lingkungan yang sedemikian keras, sehingga mungkin mereka hidup lebih lama dan berkembang lebih lambat. Lebih jauh, mamalia lebih kecil di daerah tropis mungkin menderita akibat meningkatnya persaingan (di antara mereka), mengakibatkan tingkat pergantian yang lebih cepat pada mereka.

Tetapi secara keseluruhan, kemampuan mamalia kecil untuk tidur (dalam jangka waktu lama) atau memasuki kondisi kelambanan kelihatannya memberi mereka keuntungan yang terbesar untuk memperpanjang hidup spesies mereka.

Seperti yang ditemukan para peneliti, 41 dari 67 (atau 61%) jenis mamalia kecil yang punah mempunyai beberapa macam kemampuan tidur sementara pada mamalia besar hanya 15 dari 50 (sekitar 30%). Dan mamalia kecil yang tidak biasa tidur lama di musim dingin mempunyai kecepatan evolusi yang relatif lebih cepat, sebagaimana mereka dipaksa untuk menghadapi berbagai tantangan.

Jenis spesies yang hidupnya paling lama dalam studi adalah tikus mondok, dua ekor tupai lompat, dua ekor tikus rumah, yang dapat bertahan sekitar 16 juta tahun, dan semuanya memiliki kemampuan sembunyi dalam liang atau tidur lama di musim dingin. Tapir adalah satu-satunya mamalia besar yang berkembang lambat.

Kebanyakan mamalia besar yang tidak tidur lama berkembang menjadi sebuah spesies baru atau punah hanya dalam beberapa juta tahun.

Para peneliti mencatat durasi data terpendek adalah satu juta tahun. Namun, Stenseth mengemukakan bahwa makhluk yang benar-benar hidupnya singkat tidak terdaftar dalam catatan fosil. Ia juga menjelaskan bahwa lama atau pendeknya rentang hidup mamalia masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

“Kelompok paling banyak dan beragam, seperti jenis tikus pengerat, mempunyai tingkat asal dan kepunahan yang tinggi,” katanya. “Tetapi kelompok yang berkembang lambat seperti tikus rumah berhasil dalam mengatasi cara hidup mereka sendiri, dan dengan jelas apa yang mereka lakukan adalah sangat baik.”

Lebih lanjut penulis menjelaskan, dengan memperhatikan krisis iklim yang sedang berlangsung, studi ini membantu para ilmuwan memperkirakan jenis spesies mana yang lebih rawan terhadap fluktuasi iklim.

“Beberapa tahun belakangan ini, mamalia besar berangsur-angsur mulai menghilang dari bumi, dan kecenderungan ini sepertinya berlanjut,” kata Mikael Fortelius, profesor geologi di University of Helsinki yang menulis laporan ini. “Kami sedang mengembangkan studi PNAS untuk memasukkan hal mengenai kehidupan mamalia dan berharap dapat mengumumkan hasilnya segera.” (physorg.com)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: