Tabrakan Komet tidak Mengakibatkan Kepunahan di Bumi

2 01 2010

Washington DC – Ilmuwan sedang memperdebatkan seberapa banyak kepunahan massal yang pernah terjadi di atas bumi yang diakibatkan oleh tabrakan benda langit ke permukaan planet.

Kebanyakan setuju bahwa tabrakan akibat asteroid 65 juta tahun lalu membawa datangnya akhir zaman dinosaurus. Namun di balik itu semua, masih ada ketidak-pastian seberapa banyak kepunahan massal lainnya yang terjadi karena tabrakan benda-benda asing ke permukaan Bumi.

Sebenarnya, para astronom tahu betul bahwa wilayah bagian dalam tata surya kita (termasuk Bumi) telah dilindungi oleh planet Jupiter dan Saturnus yang, berkat gaya gravitasinya yang besar, sehingga mampu melontarkan komet menjauh ke ruang antar bintang atau kadang-kadang menarik mereka sehingga menabrak permukaan kedua planet tersebut.

Hal ini dibuktikan pada 20 Juli lalu ketika timbul sebuah bekas “luka” yang besar di atas permukaan Jupiter, yang kemungkinan disebabkan oleh tabrakan meteor ke permukaannya.

Penelitian dari Universitas Washington (UW) menunjukkan adanya indikasi yang tinggi kalau komet bukanlah penyebab kepunahan massal di Bumi atau tidak bertanggung jawab terhadap satu atau lebih dari peristiwa kepunahan massal itu.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa banyak dari komet berperiode panjang yang memiliki lintasan yang bersilangan dengan Bumi berasal dari wilayah yang tak dapat diamati oleh para astronom. Sebuah komet berperiode panjang mempunyai rentang waktu antara 200 hingga 10 juta tahun untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi matahari.

“Semula kami mengira komet berperiode panjang yang kita lihat akan memberi kita gambaran bagaimana tampilan luar Awan Oort, tapi mereka malah memberi kita gambaran yang kurang jelas mengenai bagian dalam dari Awan Oort,” tutur Nathan Kaib, seorang mahasiswa doktoral di UW, yang juga menulis sebuah jurnal edisi online untuk jurnal Science.

Awan Oort adalah sisa dari nebula yang membentuk tata surya kita 4.5 milliar tahun lalu. Awan ini terletak 93 juta mil dari matahari (1000 kali jarak dari Bumi ke matahari) dan membentang selebar 3 tahun cahaya (satu tahun cahaya sama dengan 9,460,730,472,580.8 km). Awan Oort berisi milliaran komet. Kebanyakan dari mereka berukuran terlalu kecil dan terlalu jauh untuk diamati.

Terdapat sekitar 3.200 komet berperiode panjang yang telah diketahui. Salah satu yang terkenal yaitu komet Hale-Bopp, yang dapat dengan mudah diamati pada 1996 dan 1997, sekaligus sebagai salah satu komet paling terang pada abad 20. Sebagai perbandingan, komet Halley yang muncul setiap 75 tahun sekali, merupakan komet berperiode pendek yang berasal dari wilayah yang berbeda dalam tata surya kita yang disebut Sabuk Kuiper.

Telah dipercaya bahwa hampir semua komet berperiode panjang, baik yang bergerak ke dalam Jupiter atau memiliki lintasan yang bersilangan dengan Bumi, berasal dari bagian luar Awan Oort. Orbit mereka berubah ketika mereka “tersenggol” oleh gravitasi dari bintang ketika mereka berada dekat dengan tata surya. Namun efek ini terjadi hanya pada bagian luar yang jauh dari Awan Oort.

Juga dipercaya bahwa sebuah komet yang berasal dari bagian dalam Awan Oort mampu mencapai orbit yang bersilangan dengan Bumi terjadi kejadian langka, komet melintas dekat dengan bintang, yang pada akhirnya akan menimbulkan hujan komet. Tapi ternyata, meski tanpa perlu melintas dekat dengan bintang pun sebuah komet masih mampu menembus dinding pertahanan yang diciptakan oleh gravitasi Jupiter dan Saturnus, yang pada akhirnya berpotensi untuk melintas kedalam orbit Bumi.

Dalam suatu penelitian terbaru, Kaib dan rekannya Thomas Quinn, seorang profesor astronomi UW, dengan menggunakan model komputer untuk mensimulasikan evolusi sebuah komet dalam tata surya selama 1.2 milliar tahun. Mereka menemukan meski diluar periode hujan komet, bagian dalam Awan Oort menjadi sumber utama untuk sebuah komet berperiode panjang yang pada akhirnya akan melintas kedalam orbit Bumi.

Dengan menganggap bahwa bagian dalam Awan Oort sebagai satu-satunya sumber komet berperiode panjang, mereka kemudian mampu memperkirakan jumlah komet di bagian dalam Awan Oort. Meski jumlahnya pastinya tidak diketahui, namun dengan memakai perkiraan tertinggi jumlah komet dalam Awan Oort, mereka menunjukkan bahwa tidak lebih dari 2 atau 3 komet mungkin telah menabrak Bumi selama apa yang disebut sebagai hujan komet terdahsyat selama 500 juta tahun terakhir.

“Selama 25 tahun terakhir, bagian dalam dari Awan Oort telah dianggap sebagai tempat yang misterius, yang tak dapat diamati, yang dapat dengan tiba-tiba memunculkan komet pembunuh yang sanggup menyapu habis semua bentuk kehidupan dimuka Bumi,” tutur Quin. “Kami juga menunjukkan bahwa komet yang telah ditemukan dapat dipakai untuk memperkirakan jumlah tertinggi dari komet-komet yang ada didalam tempat penampungan (Awan Oort) itu.”

Dengan adanya 3 tabrakan besar yang terjadi hampir secara bersamaan, mereka mengajukan ada kepunahan massal skala kecil yang terjadi 40 juta tahun lalu sebagai akibat dari hujan meteor. Kemungkinan sebagai hujan meteor terbanyak sejak rekaman fosil dimulai.

“Hal ini berarti meskipun hujan komet terkuat sekali pun hanya menimbulkan kepunahan massal skala kecil, jadi hujan komet tidak mesti selalu menimbulkan kepunahan massal,” kata Kaib.

Ia menambahkan bahwa hasil penelitiannya didasarkan dengan mengasumsikan bahwa tata surya tidak berubah selama 500 juta tahun terakhir. Yang jelas, Bumi diuntungkan oleh kehadiran Jupiter dan Saturnus, yang bertindak sebagai penangkap raksasa, membelokkan atau menarik komet yang berpotensi menghantam Bumi kedalam permukaannya.

“Tapi, terkadang masih juga ada komet yang berhasil menembus dinding pertahanan Jupiter dan Saturnus. Tapi kebanyakan lainnya tidak,” kata Kaib. (Sciencedaily/den)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: